Sunday, April 28, 2013

Ibnu Taimiyah Menyalahi ijma’ Ulama dalam Banyak Masalah Fiqih


Menyalahi ijma’ ulama dalam banyak masalah fiqh seperti beberapa masalah talak: Talak Tiga di satu majelis, Thalaq Mu’allaq dan Thalaq al Ha-idl. Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa Talak tiga jatuh satu dan menurutnya talak Mu’allaq adalah seperti sumpah-sumpah biasa, cukup membayar kaffarat jika syaratnya dilakukan, dan talak tersebut tidak jatuh, serta talak yang dijatuhkan saat isteri haidl juga tidak jatuh.

(Majmu’ al Fatawa 33/8-9, 46, 66, 71, 92)

Bantahan:
    A.         Talak Tiga di Satu Majelis 
      Al Imam Ibnu al Mundzir dalam kitabnya al Ijma’ menegaskan:[1]

      وَأَجْمَعُوْا عَلَى أَنَّـهُ إِنْ قَالَ لَهَا: أَنْتِ طَالِقٌ ثَلاَثًا إِلاَّ وَاحِدَةً إِنَّهَا تَطْلِيْقَتَيْنِ. وَأَجْمَعُوْا عَلَى أَنَّـهُ إِنْ قَالَ لَهَا: أَنْتِ طَالِقٌ ثَلاَثًا إِلاَّ ثَلاَثًا إِنَّهَا تَطْلُقُ ثَلاَثًا.

      “Dan para ulama’ mujtahid telah menyepakati (ijma’) bahwa jika suami berkata kepada isterinya: Kamu saya talak tiga kecuali satu bahwa itu adalah talak dua, dan mereka juga sepakat jika suami berkata kepada isterinya: kamu saya talak tiga kecuali tiga maka isteri telah ditalak tiga.”

      Ijma’ juga dikutip oleh Ibnu al Mundzir dalam kitabnya yang lain al Isyraf, Abu al Walid Muhammad ibn Rusyd al Maliki dalam al Muqaddimaat, al Imam al Mujtahid Muhammad ibn al Hasan asy-Syaibani dalam al Aatsaar, al Baji al Maliki dalam al Muntaqa Syarh al Muwaththa’, Majduddin Abdus Salam ibn Taimiyah al Hanbali –Muharrir al Madzhab al Hanbali- (kakek Ibnu Taimiyah) dalam al Muntaqa Min Akhbar al Mushthafa dan lainnya.
      Al Hafizh Ibnu Hajar menjelaskan:[2]

      وَفِي الْجُمْلَةِ فَالَّذِيْ وَقَعَ فِي هذِهِ الْمَسْأَلَـةِ نَظِيْرُ مَا وَقَعَ فِي مَسْأَلَـةِ الْمُتْعَةِ سَوَاء، أَعْنِي قولَ جَابِرٍ إِنَّهَا كَانَتْ تُفْعَلُ فِي عَهْدِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم وَأَبِي بَكْرٍ وَصَدْرٍ مِنْ خِلاَفَةِ عُمَرَ، قَالَ ثُمَّ نَهَانَا عُمَرُ عَنْهَا فَانْتَهَيْنَا، فَالرَّاجِحُ فِي الْمَوْضِعَيْنِ تَحْرِيْمُ الْمُتْعَةِ وَإِيْقَاعُ الثَّلاَثِ لِلإِجْمَاعِ الَّذِي انْعَقَدَ فِي عَهْدِ عُمَرَ عَلَى ذلِكَ، وَلاَ يُحْفَظُ أَنَّ أَحَدًا فِي عَهْدِ عُمَرَ خَالَفَهُ فِي وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا، وَقَدْ دَلَّ إِجْمَاعُهُمْ عَلَى وُجُوْدِ نَاسِخٍ وَإِنْ كَانَ خَفِيَ عَنْ بَعْضِهِمْ قَبْلَ ذلِكَ حَتَّى ظَهَرَ لِجَمِيْعِهِمْ فِي عَهْدِ عُمَرَ، فَالْمُخَالِفُ بَعْدَ هذَا الإِجْمَاعِ مُنَابِذٌ لَهُ، وَالْجُمْهُوْرُ عَلَى عَدَمِ اعْتِـبَارِ مَنْ أَحْدَثَ الاخْتِلاَفَ بَعْدَ الاتِّفَاقِ. ثُمَّ قَالَ: الْمَسْئَلَةُ إِجْمَاعِيَّةٌ.

      “Secara umum yang terjadi dalam masalah ini adalah seperti yang terjadi pada masalah mut’ah sama, maksud saya adalah perkataan Jabir: “Mut’ah pernah dilakukan di masa Nabi, Abu Bakar dan awal pemerintahan Umar.” Kemudian Jabir berkata: “Lalu Umar melarang kami dari Mut’ah dan kami tidak lagi melakukannya.” Jadi yang rajih (kuat dalilnya) dalam dua masalah tersebut adalah keharaman Mut’ah dan jatuhnya talak tiga karena ijma’ yang telah terjadi seperti itu di masa Umar dan tidak ada riwayat bahwa salah seorang mujtahid menyalahi Umar dalam satu masalah-pun di antara dua masalah tersebut. Ijma’ mereka ini menunjukkan adanya nash yang menghapus (nasakh) meskipun tidak diketahui oleh sebagian orang sebelum itu hingga nampak nasikh tersebut bagi semua ulama di masa Umar, jadi orang yang menyalahi setelah jelas-jelas ada ijma’  ini maka ia telah menolak ijma’ tersebut, dan mayoritas para ulama tidak memperhitungkan orang yang memunculkan pendapat berbeda setelah adanya ijma’”, kemudian al Hafizh Ibnu Hajar menegaskan: “Jadi masalah ini adalah masalah yang telah disepakati (ijma’).”

      Syekh Ahmad ash-Shawi ketika menjelaskan tafsir ayat:

       ( فإن طلقها فلا تحل له )

      menegaskan:[3]

      أَيْ طَلْقَةً ثَالِثَةً سَوَاءٌ وَقَعَ الاثْنَـتَانِ فِي مَرَّةٍ أَوْ مَرَّتَيْنِ، وَالْمَعْنَى فَإِنْ ثَبَتَ طَلاَقُهَا ثَلاَثًا فِي مَرَّةٍ أَوْ مَرَّاتٍ فَلاَ تَحِلُّ، كَمَا إِذَا قَالَ لَهَا: أَنْتِ طَالِقٌ ثَلاَثًا أَوْ البَـتَّةَ، وَهذَا هُوَ الْمُجْمَعُ عَلَيْهِ. وَأَمَّا القَوْلُ بِأَنَّ الطَّلاَقَ الثَّلاَثَ فِيْ مَرَّةٍ وَاحِدَةٍ لاَ يَقَعُ إِلاَّ طَلْقَةٌ فَلَمْ يُعْرَفْ إِلاَّ لابْنِ تَيْمِيَةَ مِنَ الْحَنَابِلَةِ، وَقَدْ رَدَّ عَلَيْهِ أَئِمَّةُ مَذْهَبِهِ حَتَّى قَالَ العُلَمَاءُ إِنَّـهُ الضَّآلُّ الْمُضِلُّ، وَنِسْبَتُهَا للإِمَامِ أَشْهَب مِنَ أَئِمَّةِ الْمَالِكِيَّةِ بَاطِلَةٌ.

      “Yakni talak ke tiga, baik dua talak yang sebelumnya jatuh sekaligus atau dalam dua waktu, jadi makna ayat tersebut jika talak telah terjadi tiga kali dalam satu majelis atau beberapa majelis maka tidak halal bagi suaminya, seperti jika suami berkata kepadanya: Kamu saya talak tiga atau albattah, dan ini adalah hukum yang telah disepakati oleh para ulama semuanya (ijma’). Sedangkan pendapat bahwa talak tiga di satu majelis tidak jatuh kecuali satu maka pendapat ini tidak dikenal kecuali pendapat Ibnu Taimiyah dari kalangan pengikut madzhab hanbali, dan Ibnu Taimiyah telah dibantah oleh para ulama madzhabnya sendiri, bahkan para ulama berkata tentangnya: dia orang yang sesat dan menyesatkan. Penisbatan pendapat tersebut kepada Imam Asyhab, salah seorang Ulama madzhab Maliki adalah penisbatan yang batil.”

      Al Kawtsari menegaskan:[4]

      وَفِي التَّذْكِرَةِ لِلإِمَامِ الكَبِيْرِ أَبِي الوَفَاءِ بْنِ عَقِيْلٍ الْحَنْبَلِيِّ: وَإِذَا قَالَ أَنْتِ طَالِقٌ ثَلاَثًا إِلاَّ طَلْقَتَيْنِ وَقَعَتْ الثَّلاَثُ لأَنَّـهُ اسْتِـثْنَاءُ الأَكْثَرِ فَلَمْ يَصِحَّ الاسْتِثْـنَاءُ. وَقَالَ أَبُوْ البَرَكَاتِ مَجْدُ الدِّيْنِ عَبْدُ السَّلاَمِ بْنُ تَيْمِيَةَ الْحَرَّانِيُّ الْحَنْبَلِيُّ مُؤَلِّفُ مُنْـتَقَى الأَخْبَارِ فِي كِتَابِـهِ الْمُحَرَّرُ: وَلَوْ طَلَّقَهَا اثْنَتَيْنِ أَوْ ثَلاَثًا بِكَلِمَةٍ أَوْ كَلِمَاتٍ فِي طُهْرٍ فَمَا فَوْقَ مِنْ غَيْرِ مُرَاجَعَةٍ وَقَعَ وَكَانَ لِلسُّـنَّةِ، وَعَنْهُ لِلْبِدْعَةِ وَعَنْهُ الْجَمْعُ فِي الطُّهْرِ بِدْعَـةٌ، وَالتَّفْرِيْقُ فِي الأَطْهَارِ سُـنَّةٌ ا.هـ. وَأَحْمَدُ بْنُ تَيْمِيَةَ يَرْوِيْ عَنْ جَدِّهِ هذَا أَنَّـهُ كَانَ يُفْتِيْ سِرًّا بِرَدِّ الثَّلاَثِ إِلَى وَاحِدَةٍ وَأَنْتَ تَرَى نَصَّ قَوْلِـهِ فِي الْمُحَرَّرِ، وَنُبْرِئُ جَدَّهُ مِنْ أَنْ يَكُوْنَ يُبَـيِّتُ مِنَ القَوْلِ خِلاَفَ مَا يُصَرِّحُ بِـهِ فِي كُتُـبِهِ، وَإِنَّمَا ذلِكَ شَأْنُ الْمُنَافِقِيْنَ وَالزَّنَادِقَـةِ، وَقَدْ بَلَوْنَا الكَذِبَ كَثِيْرًا فِيْمَا يَنْقُلُهُ ابْنُ تَيْمِيَةَ فَإِذَا كَذَبَ عَلَى جَدِّهِ هذَا الكَذِبَ الْمَكْشُوْفَ لاَ يَصْعُبُ عَلَيْهِ أَنْ يَكْذِبَ عَلَى الآخَرِيْنَ نَسْأَلُ اللهَ السَّلاَمَـةَ.

      “Dalam kitab at-Tadzkirah karya ulama besar madzhab hanbali al Imam Abu al Wafa’ ibn ‘Aqil: “Jika suami berkata: kamu saya talak tiga kecuali dua maka jatuh tiga karena itu adalah mengecualikan yang paling banyak jadi tidak sah pengecualian tersebut.” Abu al Barakaat Majduddin Abdus Salam ibnu Taimiyah al Harrani al Hanbali -pengarang Muntaqa al Akhbar- dalam kitabnya al Muharrar mengatakan: “jika suami mentalak isterinya talak dua atau tiga dengan satu kalimat atau beberapa kalimat dalam satu kali suci atau lebih tanpa merujuknya maka jatuh talak tersebut dan statusnya talak sunni, dan ada riwayat dari imam Ahmad itu adalah talak bid’i, ada riwayat lagi: menyatukan talak dalam satu kali suci adalah bid’ah dan memisahkan talak dalam beberapa kali suci adalah sunnah.” Sedangkan Ahmad ibnu Taimiyah meriwayatkan dari kakeknya ini bahwa beliau secara rahasia memfatwakan bahwa talak tiga jatuh satu, padahal anda telah membaca sendiri penegasan beliau di al Muharrar, kita tidak percaya bahwa kakek Ibnu Taimiyah menyembunyikan pendapat yang berbeda dari apa yang ia tegaskan sendiri di buku-bukunya karena ini adalah perangai orang-orang munafik dan zindiq (perusak agama), dan kita sudah tahu persis Ibnu Taimiyah sering berbohong dalam kutipan-kutipannya, jika Ibnu Taimiyah dengan mudah berdusta terhadap kakeknya maka tidaklah sulit baginya berdusta kepada orang lain, kita memohon keselamatan kepada Allah.”

        B.     Thalaq Mu’allaq 
           Al Imam Muhammad ibn Nashr al Marwazi dalam kitabnya Ikhtilaf al ‘Ulama menegaskan:[5]

          فَإِنْ حَلَفَ بِطَلاَقٍ أَوْ عِتَاقٍ فَقَدْ أَجْمَعَتِ الأُمَّـةُ عَلَى أَنَّ الطَّلاَقَ لاَ كَفَّارَةَ فِيْهِ، وَأَنَّـهُ إِنْ حَنَثَ فِي يَمِيْـنِهِ فَالطَّلاَقُ لاَزِمٌ لَـهُ.” ثُمَّ قَالَ: "فَكُلُّ يَمِيْنٍ حَلَفَ بِهَا الرَّجُلُ يَحْنُثُ فَعَلَيْهِ الكَفَّارَةُ عَلَى ظَاهِرِ الكِتَابِ إِلاَّ أَنْ تُجْمِعَ الأُمَّـةُ عَلَى يَمِيْنٍ أَنَّهُ لاَ كَفَّارَةَ فِيْهِ، فَأَسْقَطْنَا عَلَى الْحَالِفِ بِالطَّلاَقِ الكَفَّارَةَ، وَأَلْزَمْنَاهُ الْحَالِفَ بِالعِتَاقِ، لأَنَّ الأُمَّـةَ لَمْ تُجْمِعْ عَلَى أَنْ لاَ كَفَّارَةَ عَلَيْهِ. 

          “Jika seseorang bersumpah menceraikan atau memerdekakan budak maka ummat Islam telah sepakat (ijma’) bahwa talak tersebut tidak ada kaffarahnya dan jika ia menyalahi sumpahnya talaknya telah jatuh.” Kemudian al Marwazi mengatakan: “Setiap sumpah yang diucapkan oleh seseorang yang kemudian ia langgar maka ia wajib membayar kaffarah sesuai dengan zhahir al Qur’an, kecuali jika ummat telah menyepakati terhadap suatu sumpah bahwa tidak ada kaffarahnya, maka kita gugurkan kaffarah dari orang yang bersumpah talak, dan kita wajibkan kepada orang yang bersumpah memerdekakan budak karena ummat tidak menyepakati bahwa orang yang bersumpah memerdekakan budak tidak ada kaffarahnya.”

            C.     Thalaq al Ha-idl 
              Al Imam asy-Syafi’i menegaskan:[6]

              بَيَّنَ يَعْنِي فِي حَدِيْثِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ الطَّلاَقَ يَقَعُ عَلَى الْحَائِضِ لأَنَّـهُ إِنَّمَا يُؤْمَرُ بِالْمُرَاجَعَةِ مَنْ لَزِمَهُ الطَّلاَقُ، فَأَمَّا مَنْ لَمْ يَلْزَمْهُ الطَّلاَقُ فَهُوَ بِحَالِـهِ قَبْلَ الطَّلاَقِ.

              “Rasulullah menjelaskan –yakni di hadits Ibnu Umar- bahwa talak jatuh pada isteri yang haidl, karena orang yang diperintah untuk ruju’ adalah orang yang talaknya jatuh, sedangkan orang yang talaknya tidak jatuh maka dia tetap pada kondisinya sebelum talak.”

              Al Imam al Bukhari dalam Sahih-nya menyusun sebuah bab:[7]

              بَابُ إِذَا طُلِّقَتِ الْحَائِضُ تَعْتَدُّ بِذلِكَ الطَّلاَقِ .

              “Bab jika perempuan yang sedang haidl diceraikan maka ia menganggap talak tersebut telah jatuh.”

              Al Hafizh az-Zabidi dalam Syarh al Ihya’:[8]

              إِذَا طُلِّقَتِ الْحَائِضُ يُعْتَدُّ بِذلِكَ الطَّلاَقِ، أَجْمَعَ عَلَى ذلِكَ أَئِمَّةُ الفَتْوَى.

              “Jika perempuan yang sedang haidl diceraikan maka talak tersebut dihitung telah jatuh, hal ini disepakati (ijma’) oleh para ulama mujtahid.”

               Referensi

              [1]  Ibnu al Mundzir, al Ijma’, hal.103.
              [2]  Ibnu Hajar, Fath al Bari, 9/365.
              [3] Ahmad ash-Shawi al Maliki, Hasyiyah Ash-Shawi ‘ala al Jalalayn, 1/107.
              [4]  Al Kawtsari, al Isyfaq ‘ala Ahkam ath-Thalaq, hal.43-44.
              [5] Ikhtilaf al ‘Ulama, hal.219.
              [6] Al Bayhaqi, as-Sunan al Kubra, 7/325.
              [7] Sahih al Bukhari, Kitab ath-Thalaq.
              [8]  Az-Zabidi, Ithaf as-Sadah al Muttaqin, 5/396.

              Ibnu Taimiyah Menilai Dhaif dan Maudhu' Hadits Keutamaan Sayyidina Ali


              Ibnu Taimiyah menilai dla’if atau maudlu’ sekitar 11 hadits yang menunjukkan keutamaan Sayyidina Ali t, padahal menurut para ulama hadits-hadits tersebut mutawatir, sahih atauhasan.

              (Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyyah 2/119, 204, 208, 3/9-10, 17, 156, 4/16, 75, 84-86, 96-97, 99, 104, 138, al Fatawa 4/138, 415, Majmu’ al Fatawa 4/410)

              Bantahan:

              Silahkan membaca al Maqalat as-Sunniyyah karya al Muhaddits Syekh Abdullah al Harari 353-377, Hadiyyah ash-Shaghra’, Fath al Malik al ‘Aliyy, al Burhan al Jaliyy, ketiganya karya al Hafizh Ahmad al Ghumari.

              Ibnu Taimiyah membenci dan memusuhi Sayyidina Ali


              Ibnu Taimiyah membenci dan memusuhi Sayyidina Ali (Radliyallah ‘Anhu) serta mencela dan menyalahkan Sayyidina Ali yang memerangi orang-orang yang membangkang (Bughat) terhadapnya.

              (Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyyah 2/203, 204, 208,214, 3/156, 145,175, 4/38, 180, 205, 208,281)

              Bantahan:

              Allah ta’ala berfirman:

              فَإِن بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى اْلأُخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّى تَفِىءَ إِلَى أَمْرِ اللهِ

              “Tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah.” (Q.S. al Hujuraat:9)

              Rasulullah bersabda:

              وَيْحَ عَمَّارٍ تَقْتُلُهُ الفِـئَةُ البَاغِيَةُ يَدْعُوْهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ وَيَدْعُوْنَهُ إِلَى النَّارِ (أخرجه البخاريّ وغيره)

              “Alangkah kasihan ‘Ammar, ia akan dibunuh oleh kelompok pembangkang, ia mengajak mereka ke surga dan mereka mengajaknya ke neraka” (H.R. al Bukhari dan lainnya)

              Al Hafizh Ibnu Hajar menegaskan:[1]

              وَفِي هذَا الْحَدِيْثِ عَلَمٌ مِنْ أَعْلاَمِ النُّبُـوَّةِ وَفَضِيْلَةٌ ظَاهِرَةٌ لِعَلِيٍّ وَعَمَّارٍ، وَرَدٌّ عَلَى النَّوَاصِبِ الزَّاعِمِيْنَ أَنَّ عَلِيًّا لَمْ يَكُنْ مُصِيْـبًا فِي حُرُوْبِـهِ.

              “Dalam hadits ini terdapat salah satu mukjizat kenabian, keutamaan yang sangat jelas bagi Ali dan ‘Ammar, dan bantahan kepada golongan Nawashib (golongan yang membenci dan memusuhi sayyidina Ali) yang mengklaim bahwa Ali tidak berada pada kebenaran dalam semua peperangannya.”

              Hadits ini adalah hadits Mutawatir yang diriwayatkan oleh 24 orang sahabat Nabi sebagaimana ditegaskan oleh Ibnu Abdil Barr dalam al Isti’ab, al Hafizh as-Suyuthi dalam al Khasha-ish al Kubra, al Hafizh Murtadla az-Zabidi dalam Laqth al-La-ali’, al Munawi dalam Faidl al Qadir dan lainnya.

              Al Hafizh Ibnu Hajar setelah menyebutkan perkataan al Imam ar-Rafi’i –Muharrir Madzhab Syafi’i-:

              وَثَبَتَ أَنَّ أَهْلَ الْجَمَلِ وَصِفِّيْنَ وَالنَّهْرَوَانِ بُغَاةٌ.

              “Telah sahih bahwa orang yang turut serta pada Perang Jamal, Perang Shiffin dan Perang Nahrawan adalah bughat.”

              Beliau menegaskan:[2]

              هُوَ كَمَا قَالَ، وَيَدُلُّ عَلَيْهِ: "أُمِرْتُ بِقِتَالِ النَّاكِثِيْنَ وَالقَاسِطِيْنَ وَالْمَارِقِيْنَ" رَوَاهُ النَّسَائِيُّ فِي الْخَصَائِصِ وَالبَزَّارُ وَالطَّبَرَانِيُّ. وَالقَاسِطِيْنَ أَهْلُ الشَّامِ لأَنَّهُمْ جَارُوْا عَنِ الْحَقِّ فِي عَدَمِ مُبَايَعَتِهِ.

              “Masalahnya benar seperti dikatakan oleh ar-Rafi’i, ini ditunjukkan oleh hadits Ali: “Aku diperintahkan memerangi orang-orang yang membatalkan janji baiatnya, orang-orang yang zhalim dan orang-orang yang telah keluar dari Islam” diriwayatkan oleh an-Nasa-i dalam al Khasha-ish, al Bazzar dan ath-Thabarani. Al Qasithin adalah penduduk Syam karena mereka telah menyimpang dari jalan kebenaran dengan tidak membaiat Ali.”

              Al Imam al Bayhaqi meriwayatkan dari Muhammad ibn Ishaq ibn Khuzaimah, ia berkata:[3]

              وَكُلُّ مَنْ نَازَعَ أَمِيْرَ الْمُؤْمِنِيْنَ عَلِيَّ بنَ أَبِيْ طَالِبٍ فِي إِمَارَتِـهِ فَهُوَ بَاغٍ، عَلَى هذَا عَهِدْتُ مَشَايِخَنَا وَبِـهِ قَالَ ابْنُ إِدْرِيْسَ –يَعْنِي الشَّافِعِيَّ- رَحِمَهُ اللهُ.

              “Setiap orang yang menyalahi Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib dalam kepemimpinannya adalah pembangkang (baghi), inilah yang aku ketahui dari para guru-guruku, dan inilah pendapat Ibnu Idris –asy-Syafi’i- rahimahullah.”

              Ibnu Hajar al Haytami mengutip dari Al Imam asy-Syafi’i bahwa ia menegaskan:[4]

              أَخَذْتُ أَحْكَامَ البُغَاةِ مِنْ قِتَالِ عَلِيٍّ لِمُعَاوِيَـةَ. 

              “Aku mengambil hukum-hukum tentang Bughat (para pembangkang terhadap khalifah yang sah) dari peperangan Ali terhadap Mu’awiyah.”

              Hal yang sama juga ditegaskan oleh para ulama madzhab Hanafi seperti al Imam al Kamal ibn al Humam, al Marghinani –pengarang al Hidayah dalam fiqh hanafi- dan lainnya.

               Referensi

              [1] Ibnu Hajar, Fath al Bari, 1/543.
              [2]  Ibnu Hajar, at-Talkhish al Habir, (4/44)
              [3]  Al Bayhaqi, al I’tiqad, hal.248.
              [4]  Al Haytami, Fath al Jawad bi Syarh al Irsyad, 2/295.

              Ibnu Taimiyah Mengharamkan Safar Untuk Ziarah ke Makam Nabi SAW


              Ibnu Taimiyah mengharamkan melakukan safar (perjalanan jauh) untuk berziarah ke makam Nabi dan menganggap safar tersebut adalah maksiat yang tidak boleh mengqashar sholat di dalamnya.
                (Majmu’ Fatawa 4/520, al Fatawa al Kubra 1/142, ar-Radd ‘ala al Akhna-i hal. 165)

                Bantahan:

                Al Qadli ‘Iyadl menegaskan:[1]

                وَزِيَارَةُ قَبْرِهِ صلى الله عليه وسلم سُنَّةٌ مِنْ سُنَنِ الْمُسْلِمِيْنَ مُجْمَعٌ عَلَيْهَا وَفَضِيْلَةٌ مُرَغَّبٌ فِيْهَا.

                “Ziarah makam Nabi  adalah salah satu sunnah ummat Islam yang telah disepakati (ijma’), dan keutamaan yang sangat dianjurkan.”

                Al Imam an-Nawawi menegaskan:[2]

                فَإِنَّ زِيَارَتَهُ صلى الله عليه وسلم مِنْ أَهَمِّ القُرُبَاتِ وَأَرْبَحِ الْمَسَاعِي وَأَفْضَلِ الطَّلَبَاتِ.

                “Karena ziarah Nabi termasuk salah satu ibadah yang terpenting, upaya yang menguntungkan dan keinginan yang sangat mulia.”

                Ibnu al Hajj dalam al Madkhal menegaskan:[3]

                وَالْحَاصِلُ مِنْ أَقْوَالِهِمْ أَنَّهَا قُرْبَـةٌ مَطْلُوْبَـةٌ لِنَفْسِهَا لاَ تَعَلُّقَ لَهَا بِغَيْرِهَا، فَتَنْفَرِدُ بِالقَصْدِ وَشَدِّ الرِّحَالِ إِلَيْهَا.

                “Kesimpulan dari perkataan para ulama bahwa ziarah ke makam Nabi adalah ibadah yang dianjurkan secara mandiri, tidak ada kaitannya dengan selainnya, oleh karenanya ia bisa disendirikan dalam niat dan bepergian jauh untuknya.”

                Ibnu Hajar al Haytami menegaskan:[4]

                وَلاَ يُغْـتَرُّ بِإِنْكَارِ ابْنِ تَيْمِيَةَ لِسَنِّ زِيَارَةِ قَبْرِ الرَّسُوْلِ r فَإِنَّهُ عَبْدٌ أَضَلَّهُ اللهُ كَمَا قَالَهُ العِزُّ ابْنُ جَمَاعَةَ، وَأَطَالَ فِي الرَّدِّ عَلَيْهِ التَّقِيُّ السُّبْكِيُّ فِي تَصْنِيْفٍ مُسْتَقِلٍّ، وَوُقُوْعُهُ فِي حَقِّ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم لَيْسَ بِعَجَبٍ فَإِنَّهُ وَقَعَ فِي حَقِّ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يَقُوْلُ الظَّالِمُوْنَ وَالْجَاحِدُوْنَ عُلُوًّا كَبِيْرًا، فَنَسَبَ إِلَيْهِ العَظَائِمَ كَقَوْلِهِ إِنَّ لله تَعَالَى جِهَةً وَيَدًا وَرِجْلاً وَعَيْنًا وَغَيْرَ ذلِكَ مِنَ القَبَائِحِ الشَّنِيْعَةِ، وَلَقَدْ كَفَّرَهُ كَثِيْرٌ مِنَ العُلَمَاءِ، عَامَلَهُ اللهُ بِعَدْلِـهِ وَخَذَلَ مُتَّبِـعِيْهِ الَّذِيْنَ نَصَرُوْا مَا افْتَرَاهُ عَلَى الشَّرِيْعَةِ الغَرَّاءِ.

                “Dan jangan terperdaya dengan pengingkaran Ibnu Taimiyah terhadap kesunnahan ziarah ke makam Nabi r, karena Ibnu Taimiyah sesungguhnya adalah hamba yang disesatkan oleh Allah seperti dikatakan oleh al ‘Izz ibn Jama’ah, dan as-Subki dengan panjang lebar telah membantahnya dalam karangan khusus. Penodaan Ibnu Taimiyah terhadap Rasulullah tidaklah aneh, karena ia telah menodai keagungan Allah –maha suci Allah dari perkataan-perkataan orang kafir nan ateis-, ia menisbatkan kepada Allah hal-hal yang sangat fatal seperti perkataannya bahwa Allah memiliki arah, yad, rijl dan ‘ayn dengan makna anggota badan (jarihah) dan kekejian-kekejian lainnya, Ibnu Taimiyah bahkan telah dikafirkan oleh banyak para ulama, semoga Allah membalasnya dengan keadilan-Nya, dan tidak menolong para pengikutnya yang mendukung kebohongan-kebohongannya terhadap sya’iat yang mulia.”

                Sedangkan hadits:

                لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلاَّ إِلَى ثَلاَثَـةِ مَسَاجِدَ: اَلْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِ الرَّسُـوْلِ صلى الله عليه وسلم وَمَسْجِدِ الأَقْصَى (رواه البخاريّ)

                Ditafsirkan dengan hadits lain:

                لاَ يَنْبَغِيْ لِلْمَطِيِّ أَنْ تُشَدَّ رِحَالُهُ إِلَى مَسْجِدٍ يُبْتَغَى فِيْهِ الصَّلاَةُ غَيْر الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَالْمَسْجِدِ الأَقْصَى وَمَسْجِدِيْ هذَا (حديث حسن رواه أحمد)

                Al Hafizh Abu Zur’ah al ‘Iraqi menyimpulkan:[5]

                فَتَبَـيَّنَ أَنَّ الْمُرَادَ شَـدُّ الرَّحْلِ إِلَى مَسْجِدٍ تُبْتَغَى فِيْهِ الصَّلاَةُ لاَ كُلُّ سَفَرٍ.

                “Jadi menjadi jelaslah bahwa yang dimaksud adalah berpergian jauh ke masjid untuk tujuan sholat, bukan setiap jenis perjalanan jauh.”

                Al Imam Taqiyyuddin as-Subki menjelaskan:[6]

                الاسْتِـثْنَاءُ مُفَرَّغٌ تَقْدِيْرُهُ لاَ تُشَـدُّ الرِّحَالُ إِلَى مَسْجِدٍ إِلاَّ إِلَى الْمَسَاجِدِ الثَّلاَثَـةِ، أَوْ لاَ تُشَـدُّ الرِّحَالُ إِلَى مَكَانٍ إِلاَّ إِلَى الْمَسَاجِدِ الثَّلاَثَةِ، وَلاَ بُدَّ مِنْ أَحَدِ هذَيْنِ التَّقْدِيْرَيْنِ لِيَكُوْنَ الْمُسْتَـثْنَى مُنْدَرِجًا تَحْتَ الْمُسْتَـثْنَى مِنْهُ، وَالتَّقْدِيْرُ الأَوَّلُ أَوْلَى لأَنَّـهُ جِنْسٌ قَرِيْبٌ وَلِمَا سَنُبَـيِّنُهُ مِنْ قِلَّةِ التَّخْصِيْصِ أَوْ عَدَمِهِ عَلَى هذَا التَّقْدِيْرِ.

                “Istitsna’ dalam hadits tersebut adalah Istitsna’ Mufarragh, taqdirnya: Tidak boleh melakukan perjalanan jauh ke sebuah masjid kecuali tujuannya ketiga masjid tersebut, atau Tidak boleh melakukan perjalanan jauh ke suatu tempat kecuali ke tiga masjid tersebut. Harus ditaqdirkan dengan salah satu agar Mustatsna masuk dalam bagian Mustasna minhu, taqdir yang pertama lebih tepat karena itu adalah jenis yang paling dekat, dan minimnya takhshish atau ketiadaan takhsish sama sekali dalam taqdir tersebut.”

                Al Hafizh Ibnu Hajar menjelaskan:[7]

                قَالَ بَعْضُ الْمُحَقِّقِيْنَ: قَوْلُـهُ "إِلاَّ إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ" اَلْمُسْتَثْنَى مِنْهُ مَحْذُوْفٌ، فَإِمَّا أَنْ يُقَدَّرَ عَآمًّا فَيَصِيْرُ لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَى مَكَانٍ فِي أَيِّ أَمْرٍ كَانَ إِلاَّ إِلَى الثَّلاَثَـةِ، أَوْ أَخَصَّ مِنْ ذلِكَ. لاَ سَـبِيْلَ إِلَى الأَوَّلِ لإفْضَائِهِ إِلَى سَدِّ بَابِ السَّفَرِ لِلتِّجَارَةِ وَصِلَةِ الرَّحِمِ وَطَلَبِ العِلْمِ وَغَيْرِهَا فَتَعَـيَّنَ الثَّانِي، وَالأَوْلَى أَنْ يُقَدَّرَ مَا هُوَ أَكْثَرُ مُنَاسَـبَةً وَهُوَ لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَى مَسْجِدٍ لِلصَّلاَةِ فِيْهِ إِلاَّ لِلثَّلاَثَـةِ، فَيَبْطُلُ بِذلِكَ قَوْلُ مَنْ مَنَعَ شَدَّ الرِّحَالِ إِلَى زِيَارَةِ القَبْرِ الشَّرِيْفِ وَغَيْرِهِ مِنْ قُبُوْرِ الصَّالِحِيْنَ وَاللهُ أَعْلَمُ.

                “Sebagian para ulama ahli tahqiq mengatakan: sabda Nabi "إِلاَّ إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ" Mustatsna minhu-nya dibuang, mungkin ditaqdirkan umum sehingga maknanya tidak boleh melakukan perjalanan jauh ke suatu tempat dengan tujuan apa-pun kecuali ke tiga masjid tersebut, atau ditaqdirkan lebih khusus dari itu. Tidak mungkin ditaqdirkan dengan yang pertama karena akan menutup pintu safar untuk dagang, shilaturrahim, menuntut ilmu dan lainnya. Maka harus ditaqdirkan dengan yang kedua, dan paling tepat jika ditaqdirkan yang paling banyak persesuaiannya, yaitu tidak boleh melakukan perjalanan jauh ke suatu masjid dengan tujuan sholat di dalamnya kecuali ke tiga masjid tersebut. Dengan demikian batal-lah pendapat orang yang melarang perjalanan jauh untuk ziarah ke makam Nabi yang mulia dan kuburan orang-orang saleh selainnya, Wallahu A’lam.” 

                Bahkan adz-Dzahabi membolehkan safar untuk ziarah ke makam Nabi dalam Siyar A’lam an-Nubala’ (4/484) dan menegaskan dalam Mu’jam asy-Syuyukh (2/308):

                لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلاَّ إِلَى ثَلاَثَـةِ مَسَاجِدَ، إِنَّمَا حَقِيْقَةُ النَّهْيِ فِي النَّصِّ هُوَ عَنْ شَدِّ الرِّحَالِ إِلَى مَسْجِدٍ غَيْرِ الْمَسَاجِدِ الثَّلاَثَـةِ.

                “Hadits (لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلاَّ إِلَى ثَلاَثَـةِ مَسَاجِدَ), hakekat larangan dalam nash ini tiada lain adalah larangan untuk melakukan perjalanan jauh ke sebuah masjid selain tiga masjid tersebut.”

                Al Hafizh Zaynuddin al ‘Iraqi menyimpulkan:[8]

                وَيَنْبَغِيْ لِكُلِّ مُسْلِمٍ اعْتِقَادُ كَوْنِ زِيَارَتِـهِ صلى الله عليه وسلم قُرْبَـةً لِلأَحَادِيْثِ الوَارِدَةِ فِي ذلِكَ وَلِقَوْلِهِ تَعَالَى:   (ولو أنهم إذ ظلموا أنفسهم) [سورة النساء] الآية، لأَنَّ تَعْظِيْمَهُ صلى الله عليه وسلم لاَ يَنْقَطِعُ بِمَوْتِـهِ، وَلاَ يُقَالُ إِنَّ اسْتِغْفَارَ الرَّسُـوْلِ لَهُمْ إِنَّمَا هُوَ فِي حَالِ حَيَاتِـهِ، وَلَيْسَتِ الزِّيَارَةُ كذلِكَ لِمَا قَدْ أَجَابَ بِهِ بَعْضُ أَئِمَّةِ الْمُحَقِّقِيْنَ مِنْ أَنَّ الآيَـةَ دَلَّتْ عَلَى تَعْلِيْقِ وِجْدَانِ اللهِ تَوَّابًا رَحِيْمًا بِثَلاَثَةِ أُمُوْرٍ: الْمَجِيْءِ، وَاسْتِغْفَارِ الرَّسُوْلِ لَهُمْ، وَقَدْ حَصَلَ اسْتِغْفَارُ الرَّسُوْلِ لِجَمِيْعِ الْمُؤْمِنِيْنَ لأَنَّهُ صلى الله عليه وسلم قَدْ اسْتَغْفَرَ لِلْجَمِيْعِ قَالَ اللهُ تَعَالَى: (واستغفر لذنبك وللمؤمنين والمؤمنات)  فَإِذَا وُجِدَ مَجِيْئُهُمْ أَوْ اسْتِغْفَارُهُمْ تَكَامَلَتِ الأُمُوْرُ الثَّلاَثَـةُ الْمُوْجِبَةُ لِتَوْبَـةِ اللهِ وَرَحْمَتِهِ.

                “Seyogyanya setiap muslim meyakini bahwa ziarah kepada Nabi  adalah ibadah sesuai dengan hadits-hadits tentang itu, juga karena firman Allah:

                (ولو أنهم إذ ظلموا أنفسهم)

                Karena ta’zhim kita kepada Nabi  tidak terputus dengan kematiannya. Tidak bisa dikatakan bahwa istighfar Rasul untuk mereka hanya terjadi di masa hidupnya dan ziarah jelas dilakukan bukan di masa hidup Nabi, karena jawaban yang telah diberikan oleh sebagian para ulama muhaqqiqin bahwa ayat tersebut menunjukkan tergantungnya didapatinya Allah maha penerima taubat dan maha penyayang kepada tiga hal: datang kepada Nabi, istighfar Nabi untuk mereka, dan Nabi telah melakukan istighfar untuk semua orang mukmin sesuai perintah Allah:

                (واستغفر لذنبك وللمؤمنين والمؤمنات)

                Jadi jika telah didapati kedatangan mereka atau istighfar mereka maka sempurnalah tiga hal yang meniscayakan diterimanya taubat oleh Allah dan kasih sayang Allah.”

                catatan kaki

                [1] Al Qadli ‘Iyadl, as-Syifa’, 2/83.
                [2] An-Nawawi, al Adzkar, hal. 216.
                [3] Ibnu al Hajj, al Madkhal, 1/256.
                [4] Al Haytami, Hasyiyah Ibnu Hajar ‘ala Matn al I-dlah, hal.443.
                [5]  Abu Zur’ah al ‘Iraqi, Tharh at-Tatsrib, 6/43-44.
                [6]  At-Taqiyy as-Subki, Syifa’ s-Saqaam, hal.118-119.
                [7]  Ibnu Hajar al ‘Asqalani, Fath al Bari, (3/66).
                [8]  Dikutip oleh Syekh Muhammad ash-Shalihi dalam Subul al Huda Wa ar-Rasyad, 1/383.

                Ibnu Taimiyah Mengharamkan Tawassul dan Tabarruk dengan Para Nabi dan Orang Saleh


                Ibnu Taimiyah mengharamkan Tawassul dengan para nabi dan orang-orang saleh dan Tabarruk dengan mereka dan peninggalan-peninggalan mereka.
                (at-Tawassul Wa al Wasi-lah hal. 24,150,  ar-Radd ‘ala al Manthiqiyyin hal. 534)

                Bantahan:

                Al Imam Taqiyyuddin as-Subki menegaskan:[1]

                اعْلَمْ أَنَّهُ يَجُوْزُ وَيَحْسُنُ التَّوَسُّلُ وَالاسْتِعَانَةُ وَالتَّشَـفُّعُ بِالنَّبِيِّ إِلَى رَبِّـهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، وَجَوَازُ ذلِكَ وَحُسْنُهُ مِنَ الأُمُوْرِ الْمَعْلُوْمَةِ لِكُلِّ ذِي دِيْنٍ الْمَعْرُوْفَـةِ مِنْ فِعْلِ الأَنْبِـيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَسِيَرِ السَّلَفِ الصَّالِحِيْنَ وَالعُلَمَاءِ وَالعَوَامِّ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَلَمْ يُنْكِرْ أَحَدٌ ذلِكَ مِنْ أَهْلِ الأَدْيَانِ وَلاَ سُمِعَ بِـهِ فِي زَمَنٍ مِنَ الأَزْمَانِ حَتَّى جَاءَ ابْنُ تَيْمِيَةَ فَتَكَلَّمَ فِي ذلِكَ بِكَلاَمٍ يُلَبِّسُ فِيْهِ عَلَى الضُّعَفَاءِ الأَغْمَارِ، وَابْتَدَعَ مَا لَمْ يُسْبَقْ إِلَيْهِ فِي سَائِرِ الأَعْصَارِ.

                “Ketahuilah bahwa boleh dan bagus bertawassul, melakukan isti’anah dan tasyaffu’ dengan Nabi kepada Tuhannya subhanahu wa ta’ala, boleh dan bagusnya tawassul tersebut termasuk perkara yang sudah maklum bagi setiap orang yang faham agama, telah populer dari perilaku para nabi dan rasul serta sejarah para as-Salaf ash-Shalih, para ulama dan kalangan awam dari ummat Islam, tidak ada bahkan tidak pernah terdengar seorangpun yang mengingkari hal itu di zaman kapan-pun hingga datang Ibnu Taimiyah dan berbicara tentang pengingkaran tersebut dengan perkataan yang mengelabui orang-orang yang lemah dan tidak berilmu dan Ibnu Taimiyah-pun dengan begitu telah membuat bid’ah yang tidak pernah ada yang mendahuluinya dalam semua masa yang telah lewat.”

                Al Hafizh as-Sakhawi dalam al Qaul al Badi’ membuat sub bab:[2]

                وَأَمَّا الصَّلاَةُ عَلَيْهِ صلى الله عليه وسلم عِنْدَ الْحَاجَةِ تَعْرِضُ....

                “Sedangkan bershalawat atas Nabi ketika ada keperluan (hajat): ….”

                Kemudian beliau menegaskan:[3]

                وَمَنْ تَشَفَّعَ بِجَاهِـهِ صلى الله عليه وسلم وَتَوَسَّلَ بِالصَّلاَةِ عَلَيْهِ بُلِّغَ مُرَادَهُ وَأُنْجِحَ قَصْدُهُ، وَقَدْ أَفْرَدُوْا ذلِكَ بِالتَّصْنِيْفِ، وَمِنْ ذلِكَ حَدِيْثُ عُثْمَانَ بْنِ حُنَيْفٍ الْمَاضِي وَغَيْرُهُ، وَهذِهِ مِنَ الْمُعْجِزَاتِ البَاقِيَةِ عَلَى مَمَرِّ الدُّهُوْرِ وَالأَعْوَامِ وَتَعَاقُبِ العُصُوْرِ وَالأَيَّامِ، وَلَوْ قِيْلَ إِنَّ إِجَابَاتِ الْمُتَوَسِّلِيْنَ بِجَاهِـهِ عَقِبَ تَوَسُّلِهِمْ يَتَضَمَّنُ مُعْجِزَاتٍ كَثِيْرَةً بِعَدَدِ التَّوَسُّلاَتِ لَكَانَ أَحْسَنَ، فَلاَ يَطْمَعُ حِيْنَـئِذٍ فِي عَدِّ مُعْجِزَاتِـهِ حَاصِرٌ، فَإِنَّـهُ -وَلَوْ بَلَغَ مَا بَلَغَ مِنْهَا- حَاسِرٌ قَاصِرٌ.

                “Dan barangsiapa bertasyaffu’ dengan kemuliaan Nabi dan bertawassul dengan bershalawat kepadanya akan disampaikan kepada tujuannya dan berhasil maksudnya, tentang masalah ini para ulama sudah menulis karangan-karangan khusus, termasuk hadits Utsman bin Hunayf yang telah lalu dan lainnya. Ini termasuk mukjizat yang terus ada sepanjang masa dan bergantinya tahun dan hari. Seandainya dikatakan: bahwa dikabulkannya permohonan orang-orang yang bertawassul dengan derajat dan kemuliaan Nabi setelah tawassul mereka mengandung mukjizat yang banyak sebanyak jumlah tawassul tersebut ini lebih bagus, dengan demikian tidak ada orang yang bisa berharap membatasi mukjizat Nabi dengan jumlah tertentu, karena –sebanyak apapun hitungannya terhadap mukjizat Nabi- dia akan gagal dan tidak bisa membatasinya dengan jumlah tertentu.”

                Syekh Abdullah al Ghumari menegaskan:[4]

                تَبَيَّنَ مِمَّا أَوْرَدْنَاهُ وَحَقَّقْنَاهُ فِي كَشْفِ تَدْلِيْسِ الأَلْبَانِيِّ وَغِشِّهِ أَنَّ القِصَّةَ صَحِيْحَةٌ جِدًّا رَغْمَ مُحَاوَلَتِهِ وَتَدْلِيْسَاتِهِ، وَهِيَ تُفِيْدُ جَوَازَ التَّوَسُّلِ بِالنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم بَعْدَ انْتِقَالِهِ، لأَنَّ الصَّحَابِيَّ رَاوِيَ الْحَدِيْثِ فَهِمَ ذلِكَ، وَفَهْمُ الرَّاوِيْ لَهُ قِيْمَتُهُ العِلْمِيَّةُ وَلَهُ وَزْنُـهُ فِي مَجَالِ الاسْتِنْبَاطِ. وَإِنَّمَا قُلْنَا إِنَّ القِصَّةَ مِنْ فَهْمِ الصَّحَابِيِّ عَلَى سَبِيْلِ التَّنَـزُّلِ، وَالْحَقِيْقَةُ أَنَّ مَا فَعَلَهُ عُثْمَانُ بْنُ حُنَيْفٍ مِنْ إِرْشَادِهِ الرَّجُلَ إِلَى التَّوَسُّـلِ كَانَ تَنْفِيْذًا لِمَا سَمِعَهُ مِنَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم كَمَا ثَبَتَ فِي حَدِيْثِ الضَّرِيْرِ. قَالَ ابْنُ أَبِيْ خَيْثَمَةَ فِي تَارِيْخِهِ: حَدَّثَنَا مُسْلِمُ بنُ إِبْرَاهِيْمَ، ثَنَا حَمَّادُ بنُ سَلَمَةَ، أَنَا أَبُوْ جَعْفَرٍ الْخِطْمِيُّ، عَنْ عُمَارَةَ بنِ خُزَيْمَةَ، عَنْ عُثْمَانَ بنِ حُنَيْفٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَّ رَجُلاً أَعْمَى أَتَى النَّبِيَّ r فَقَالَ: إِنِّيْ أُصِبْتُ فِي بَصَرِيْ فَادْعُ اللهَ لِي فَقَالَ: "اذْهَبْ فَتَوَضَّأْ وَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ قُلْ: اَللّهُمَّ إِنِّي أَسْـأَلُكَ وَأَتَوَجَّـهُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّيْ مُحَمَّدٍ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ يَا مُحَمَّدُ إِنِّيْ أَسْتَشْفِعُ بِكَ عَلَى رَبِّيْ فِي رَدِّ بَصَرِي اللّهُمَّ فَشَفِّعْنِي فِي نَفْسِي وَشَفِّعْ نَبِيِّيْ فِي رَدِّ بَصَرِي، وَإِنْ كَانَتْ حَاجَةٌ فَافْعَلْ مِثْلَ ذلِكَ" إِسْنَادُهُ صَحِيْحٌ، وَالْجُمْلَةُ الأَخِيْرَةُ مِنَ الْحَدِيْثِ تُصَرِّحُ بِإِذْنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فِي التَّوَسُّـلِ بِهِ عِنْدَ عُرُوْضِ حَاجَةٍ تَقْتَضِي. وَقَدْ أَعَلَّ ابنُ تَيْمِيَةَ هذِهِ الْجُمْلَةَ بِعِلَلٍ وَاهِيَةٍ بَيَّنْتُ بُطْلاَنَهَا فِي غَيْرِ هذَا الْمَحَلِّ، وَابْنُ تَيْمِيَةَ جَرِيْءٌ فِي رَدِّ الْحَدِيْثِ الَّذِي لاَ يُوَافِقُ غَرَضَهُ وَلَوْ كَانَ فِي الصَّحِيْحِ.” ثُمَّ قَالَ: "وَنَقُوْلُ عَلَى سَبِيْلِ التَّنَـزُّلِ: لَوْ فَرَضْنَا أَنَّ القِصَّةَ ضَعِيْفَةٌ تَطْيِـيْبًا لِخَاطِرِ الأَلْبَانِيِّ، وَأَنَّ رِوَايَـةَ ابْنِ أَبِيْ خَيْثَمَةَ مَعْلُوْلَةٌ كَمَا فِي مُحَاوَلَـةِ ابنِ تَيْمِيَةَ. قُلْنَا: فِي حَدِيْثِ تَوَسُّـلِ الضَرِيْرِ كِفَايَةٌ وَغَنَاءٌ، لأَنَّ النَّبِيَّ حِيْنَ عَلَّمَ الضَّرِيْرَ ذلِكَ التَّوَسُّـلَ دَلَّ عَلَى مَشْرُوْعِيَّتِهِ فِي جَمِيْعِ الْحَالاَتِ، وَلاَ يَجُوْزُ أَنْ يُقَالَ عَنْهُ تَوَسُّـلٌ مُبْتَدَعٌ، وَلاَ يَجُوْزُ تَخْصِيْصُهُ بِحَالِ حَيَاتِهِ صلى الله عليه وسلم، وَمَنْ خَصَّصَهُ فَهُوَ الْمُبْتَدِعُ حَقِيْقَةً، لأَنَّهُ عَطَّلَ حَدِيْثًا صَحِيْحًا، وَأَبْطَلَ العَمَلَ بِهِ وَهُوَ حَرَامٌ. وَالأَلْبَانِيُّ جَرِيْءٌ عَلَى دَعْوَى التَّخْصِيْصِ أَوْ النَّسْخِ لِمُجَرَّدِ خِلاَفِ رَأْيِـهِ وَهَـوَاهُ. فَحَدِيْثُ الضَّرِيْرِ لَوْ كَانَ خَاصًّا بِهِ لَبَيَّـنَهُ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم كَمَا بَيَّنَ لأَبِيْ بُرْدَةَ أَنْ الْجَذَعَةَ مِنَ الْمَعْزِ تُجْزِئُهُ فِي الأُضْحِيَةِ وَلاَ تُجْزِئُ غَيْرَهُ كَمَا فِي الصَّحِيْحَيْنِ وَتَأْخِيْرُ البَيَانِ عَنْ وَقْتِ الْحَاجَةِ لاَ يَجُوْزُ.

                “Menjadi jelas dari keterangan yang telah kami sebutkan dan apa yang telah kami tahqiqkan dalam menyingkap kelicikan dan penipuan al Albani bahwa kisah (tawassul orang buta) sangat sahih meski upaya-upaya dan kebohongan-kebohongan yang telah dilakukan oleh al Albani. Kisah tersebut menunjukkan bolehnya bertawassul dengan Nabi setelah ia wafat, karena sahabat perawi hadits tersebut memahami demikian, dan pemahaman perawi jelas memiliki bobot ilmiah dan punya nilai tersendiri dalam wilayah istinbath. Kita katakan bahwa kisah tersebut bersumber dari pemahaman sahabat, itu paling tidak, padahal kenyataan sebenarnya apa yang dilakukan oleh Utsman ibn Hunayf dengan menunjukkan tamu khalifah Utsman agar bertawassul itu hanyalah melaksanakan apa yang ia dengar dari  Rasulullah sebagaimana telah disebutkan dengan jalur yang sahih dalam hadits orang buta tersebut. Ibnu Abi Khaytsamah dalam Tarikh-nya berkata: memberitahukan kepada kami Muslim ibn Ibrahim, memberitahukan kepada kami Hammad ibn Salamah, memberitahukan kepada kami Abu Ja’far al Khithmiy, dari ‘Umarah ibn Khuzaimah dari Utsman ibn Hunayf radliyallahu ‘anhu bahwa ada seorang laki-laki buta datang kepada Nabi dan berkata: Aku terkena musibah di mata-ku maka berdoa-lah kepada Allah untukku, maka Nabi bersabda: Pergilah dan berwudlu’ lalu sholat dua raka’at kemudian katakan:
                اَللّهُمَّ إِنِّي أَسْـأَلُكَ وَأَتَوَجَّـهُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّيْ مُحَمَّدٍ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ يَا مُحَمَّدُ إِنِّيْ أَسْتَشْفِعُ بِكَ عَلَى رَبِّيْ فِي رَدِّ بَصَرِي اللّهُمَّ فَشَفِّعْنِي فِي نَفْسِي وَشَفِّعْ نَبِيِّيْ فِي رَدِّ بَصَرِي 

                Dan jika ada hajat lagi lakukanlah seperti itu.” Sanad riwayat ini sahih, kalimat terakhir dari hadits ini menegaskan izin Nabi untuk bertawassul dengannya ketika muncul keperluan yang menuntut tawassul. Ibnu Taimiyah telah menganggap ada ‘illah pada kalimat terakhir tersebut dengan alasan-alasan yang sangat lemah yang telah saya jelaskan kebatilannya di tempat lain. Ibnu Taimiyah memang sangat berani menolak hadits yang tidak sesuai dengan pendapat dan tujuannya, meskipun hadits tersebut adanya di Sahih.”  Kemudian al Ghumari mengatakan: “Lagi-lagi kami katakan dalam kemungkinan terburuk: Anggaplah seandainya kisah tersebut dla’if untuk menyenangkan al Albani dan bahwa riwayat Ibnu Abi Khaytsamah ada ‘illahnya (ma’lul) seperti dalam upaya Ibnu Taimiyah, kita katakan: dalam hadits tawassul orang yang buta tersebut sudah cukup, bahkan lebih dari cukup, karena ketika Nabi mengajarkan tawassul kepada orang buta tersebut itu menunjukkan disyari’atkannya tawassul dalam semua kondisi, sehingga tidak boleh dikatakan tentangnya tawassul mubtada’, juga tidak boleh tawassul dikhususkan dengan kondisi saat Nabi masih hidup, yustru orang yang mengkhususkan itulah yang membuat bid’ah yang sesungguhnya, karena dia telah tidak memfungsikan sebuah hadits yang sahih, dan telah membatalkan beramal dengannya dan itu adalah perbuatan haram. Al Albani memang terlalu berani mengklaim takhshish atau nasakh hanya karena tidak sesuai dengan pendapat dan hawa nafsunya. Hadits orang buta ini seandainya khusus baginya niscaya Nabi menjelaskan itu sebagaiman Nabi menjelaskan kepada Abu Burdah bahwa Jadza’ah dari kambing jawa mencukupi untuk Qurban baginya dan tidak mencukupi untuk selainnya seperti dalam Sahih al Bukhari dan Muslim. Dan menunda penjelasan dari saat dibutuhkan itu tidak boleh terjadi.”

                Syekh Abdullah al Harari menegaskan:[5]

                هذَا وَغَيْرُهُ مِمَّا نُقِلَ عَنْ حُفَّاظِ الْمُحَدِّثِيْنَ مِنَ التَّوَسُّـلِ بِالنَّبِيِّ بَعْدَ وَفَاتِهِ يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُمْ كَانُوْا لاَ يَعْبَئُوْنَ بِإِنْكَارِ ابْنِ تَيْمِيَةَ التَّوَسُّـلَ بِالنَّبِيِّ، وَأَنَّهُ شَذَّ عَنْ عُلَمَاءِ الأُمَّـةِ الْمُحَدِّثِيْنَ وَالفُقَهَاءِ مِمَّنْ كَانُوْا قَبْلَهُ وَمِمَّنْ عَاصَرُوْهُ، فَأَمَّا مَنْ عَاصَرَهُ فَمِنْهُمُ الْمُحَدِّثُ الْحَافِظُ تَقِيُّ الدِّيْنِ السُّبْكِيُّ وَغَيْرُهُ، وَأَمَّا مَنْ قَبْلَ ابْنِ تَيْمِيَةَ فَالْحَافِظُ عَبْدُ الغَافِرِ الفَارِسِيُّ وَالْحَافِظُ الْخَطِيْبُ البَغْدَادِيُّ الَّذِي ذَكَرَ الْمُحَدِّثُوْنَ فِي كُتُبِ الْمُصْطَلَحِ التَّـنْوِيْهَ بِهِ وَعُدَّ أَحَدَ الْمَشَاهِيْرِ البَارِزِيْنِ فِي الْحَدِيْثِ، وَلَمْ يَسْبِقْ ابْنَ تَيْمِيَةَ بِذلِكَ مِنَ الْمُحَدِّثِيْنَ أَحَدٌ حَتَّى مِنَ الْمُجَسِّمَةِ أَمْثَالِهِ، فَلاَ سَنَدَ لَهُ فِيْمَا ارْتَكَبَهُ، وَكَذلِكَ مَنْ جَاءُوْا بَعْدَهُ مِنَ الْحُفَّاظِ كَالْحَافِظِ زَيْنِ الدِّيْنِ العِرَاقِيِّ فِي ءَاخِرِ مَنْظُوْمَتِهِ فِي تَفْسِيْرِ مُفْرَدَاتِ القُرْءَانِ وَالْحَافِظِ ابْنِ حَجَرٍ العَسْقَلاَنِيِّ فِي قَصَائِدِهِ الْمُسَمَّاةِ بِالنَّـيِّرَاتِ السَّبْعِ وَالْحَافِظِ شَمْسِ الدِّيْنِ الْجَزَرِيِّ كَمَا فِي مُقَدِّمَةِ شَرْحِهِ لِلْمَصَابِيْحِ الْمُسَمَّى بِتَصْحِيْحِ الْمَصَابِيْحِ وَالْحَافِظِ مُحَمَّد مُرْتَضَى الزَّبِيْدِيِّ وَغَيْرِهِمْ، وَلَمْ يَزَلْ ذلِكَ دَأْبَ العُلَمَاءِ السَّلَفِ وَالْخَلَفِ، وَلَمْ يَتَحَاشَ ذلِكَ إِلاَّ مَنْ فُتِنَ بِبِدْعَةِ ابْنِ تَيْمِيَةَ تِلْكَ البِدْعَةِ الكُبْرَى تَحْرِيْمِهِ التَّوَسُّـلَ بِالنَّبِيِّ الَّذِي لَيْسَ فِي حَيَاتِهِ وَلاَ فِي حُضُوْرِهِ.

                “Kisah ini (kisah tabarruk dan tawassul al Hafizh Syamsuddin ibn al Jazari dengan Imam Muslim di kuburannya) dan kisah-kisah lain yang dinukil dari para huffazh ahli hadits tentang tawassul dengan Nabi setelah ia wafat, ini semua menunjukkan bahwa mereka tidak memperdulikan pengingkaran Ibnu Taimiyah terhadap tawassul dengan Nabi, Ibnu Taimiyah telah menyempal dari para ulama ummat Muhammad dari kalangan ahli hadits dan ahli fiqh sebelumnya atau yang semasa dengannya. Para ulama yang semasa dengannya seperti al Muhaddits al Hafizh Taqiyyuddin as-Subki dan lainnya. Para ulama sebelumnya seperti al Hafizh Abdul Ghafir al Farisi, al Hafizh al Khathib al Baghdadi –yang sering disebut-sebut oleh para ahli hadits dalam buku-buku Mushthalah al hadits dan memang salah seorang ulama yang menonjol dalam bidang hadits-. Tidak ada seorang-pun dari ahli hadits yang mendahului Ibnu Taimiyah dalam pengingkaran tersebut, bahkan dari golongan mujassimah-pun yang sealiran akidah dengannya, jadi sama sekali tidak ada sandaran bagi Ibnu Taimiyah dalam pengingkaran tersebut. Demikian pula para huffazh hadits yang datang setelah Ibnu Taimiyah seperti al Hafizh Zaynuddin al ‘Iraqi di akhir nazhamnya tentang tafsir kosa kata (Mufradat) al Qur’an, al Hafizh Ibnu Hajar al ‘Asqalani dalam qashidah-qashidahnya yang berjudul an-Nayyirat as-Sab’u, al Hafizh Syamsuddin ibn al Jazari dalam Muqaddimah Syarahnya terhadap al Mashabih yang dinamakan Tashhih al Masha-bih, al Hafizh Muhammad Murtadla az-Zabidi dan lainnya. Tawassul selalu menjadi kebiasaan para ulama salaf dan khalaf, dan tidak ada yang risih dan menjauhi tawassul kecuali orang yang terkena fitnah dengan bid’ah Ibnu Taimiyah, bid’ah yang begitu besar; yaitu pengharamannya terhadap tawassul dengan Nabi bukan di saat hidupnya dan bukan dengan kehadirannya.”

                Catatan Kaki

                [1] At-Taqiyy as-Subki, Syifa’ s-Saqaam, hal.160.
                [2] As-Sakhawi, al Qaul al Badi’, hal.430.
                [3] As-Sakhawi, al Qaul al Badi’, hal.442.
                [4]  Abdullah al Ghumari, Juz fihi ar-Radd ‘ala al Albani, 55-61.
                [5] Al Harari, al Maqalat as-Sunniyyah, hal.278-279, 284.